Redaksi Ard-news.com
Oleh : Abdurrahman Daeng
Jakarta. Ard-news.com- Deklarasi Partai Gerakan Rakyat pada 18 Januari 2026 di Jakarta menjadi salah satu peristiwa politik yang menarik perhatian publik. Berangkat dari organisasi kemasyarakatan, partai ini mengusung narasi “dari rakyat, untuk rakyat” dan menolak wacana pilkada melalui DPRD.
Kehadiran tokoh-tokoh nasional pada saat deklarasi memang memberi daya ungkit. Namun kami di Redaksi Ard-news.com menilai, modal nama besar saja tidak akan cukup untuk membuat sebuah partai politik bertahan dan dipercaya rakyat.
Ujian sebenarnya ada di akar rumput.
Hari ini publik sudah jenuh dengan partai yang hanya aktif saat pemilu. Kantor megah, baliho besar, tapi saat warga menghadapi harga pangan naik, pupuk langka, atau anak muda kesulitan kerja, partainya tidak terlihat.
Jika Partai Gerakan Rakyat serius dengan identitasnya sebagai partai “orang biasa”, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah parai di daerah di pegang oleh putra daerah setempat.
Pertama, bangun struktur di berbagai provinsi yang sudah dikantongi harus segera diisi kader yang benar-benar berasal dan tinggal di daerah tersebut, bukan sekadar “titipan” dari pusat.
Kedua, *hadirkan program nyata*. Bukan bagi-bagi kaos atau sembako musiman. Tapi pelatihan keterampilan, pendampingan UMKM, posko bantuan hukum, dan ruang diskusi warga di tingkat kecamatan dan desa.
Ketiga, adirkan isu lokal sebagai prioritas. Partai nasional yang kuat lahir dari penyelesaian masalah-masalah kecil di daerah. Dari situlah kepercayaan publik dibangun.
Anak muda, kelompok tani, buruh, dan masyarakat kecil hari ini butuh partai yang hadir setiap hari, bukan lima tahun sekali. Mereka butuh rumah politik yang pintunya selalu terbuka.
Jika Partai Gerakan Rakyat mampu menjawab tantangan ini, maka ia berpeluang menjadi kekuatan baru. Jika tidak, maka ia hanya akan menjadi tambahan dalam daftar panjang partai yang lahir dengan semangat besar, tapi mati karena jauh dari rakyat.
Saatnya partai politik turun dari panggung, dan kembali ke tanah tempat ia berasal.**







