ARDNEWS.COM
PORTAL BERITA TERKINI • LIVE
● LIVESUBSCRIBE
BERANDANASIONALBISNISTEKNOLOGIHUKUM
KURS LIVEUSD/IDR 17.889EUR/IDR 20.045
BREAKINGPUSPOLRINDO Desak Kasus Denny Indrayana • BI Tahan Bunga 6,25% • Hanya di ARD-NEWS.COM

Mengenang Bung Karno di Ende dan Lahirnya Pancasila, Guru Besar UNJ Dukung Simposium Budaya NTT dan Dekrit Presiden Prabowo

IMG_20261015_092359

Jakarta. ArdNews. Com- YM Raja RSN Wareng Adipati Kapitan Lingga Ratuloly, yang dikenal sebagai Pahlawan Bangsa Indonesia, memberikan perhatian khusus terhadap tulisan YM Rahman Sabon Nama (RSN) terkait desakan PDKN yang mendesak dan meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengeluarkan Dekrit Presiden demi keutuhan NKRI dengan mengembalikan Pancasila dan UUD 1945 Asli kepada Rakyat Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, sejarah perjuangan Bung Karno di Flores menjadi refleksi penting bagi bangsa ini tentang jati diri Pancasila.

Bung Karno, Ir. Soekarno, diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Kota Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur selama hampir 5 tahun, terhitung sejak 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938.

Fakta sejarah penting dari pengasingan Sang Proklamator, penyambung lidah rakyat di Ende, tak bisa dipisahkan dari perjalanan kebangsaan kita.

Selama dalam pengasingan di Ende, Bung Karno disertai oleh keluarganya, yakni istrinya Inggit Garnasih, ibu mertuanya Amsi, dan seorang anak angkat bernama Ratna Djuami.

Di Ende, Bung Karno bersama keluarga sempat tinggal sementara di rumah H. Abdullah Binti Saleh Banjar. Kemudian berpindah dan menempati rumah milik H. Abdullah Ambuwaru di Kampung Ambugaga, yang kini telah menjadi Museum Situs Bung Karno dan menjadi saksi bisu perenungan besar sang proklamator.

Sejarah lahirnya Pancasila di bawah pohon Sukun yang rindang di Kota Ende menjadi bukti tak terbantahkan. Di bawah pohon Sukun itulah, Bung Karno merenung, merumuskan, dan menggali gagasan Dasar Negara Indonesia, yakni Pancasila yang kita kenal dan kita amalkan sekarang. Maka, Pancasila tidak lepas dari Flores, tidak lepas dari Ende.

Dalam penderitaan di pengasingan, untuk bertahan hidup bersama keluarganya, Bung Karno harus berjualan kain yang didatangkan dari Bandung. Namun di tengah keterbatasan itu, ia tetap bergaul dan bersosialisasi secara intens dengan penduduk lokal dan para misionaris Eropa, menyerap nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Pada Oktober 1938, dari Ende, pemerintah kolonial Belanda kembali memindahkan Bung Karno ke Pulau Sumatera, Kota Bengkulu.

Oleh karena itu, situs-situs sejarah yang ada di Kota Ende wajib dilestarikan sebagai destinasi wisata sejarah kebangsaan. Taman Perenungan Pancasila di Ende dan berbagai koleksi bersejarah yang ada di dalam rumah pengasingan Bung Karno adalah warisan ideologi bangsa yang harus dijaga.

Sejalan dengan semangat pelestarian sejarah dan budaya tersebut, kami mendukung penuh Pagelaran Simposium Budaya Lokal NTT di Jakarta yang akan diselenggarakan pada 22 Oktober 2026 dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Simposium ini penting agar budaya Nusantara tidak lekang dimakan zaman dan menjadi benteng moral bagi generasi penerus bangsa.

Semangat mengembalikan Pancasila dan UUD 1945 Asli kepada rakyat adalah semangat mengembalikan marwah perenungan Bung Karno di bawah Pohon Sukun Ende.
Dr. Nurzengky Ibrahim.
Oleh: Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta / Dewan Pakar PDKN

ARD NEWS. COM