Kampar,ard-news.com- – Upaya pencarian terhadap pria yang diduga terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Desa Merangin, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar, memasuki hari ketiga, Kamis (6/8/2026). Meski operasi pencarian memiliki batas waktu sesuai prosedur, Tim SAR gabungan menegaskan komitmennya untuk terus memberikan upaya terbaik dalam menemukan korban.
Pantauan ARDNEWS di Posko Basarnas menunjukkan personel gabungan dari Basarnas, BPBD Kabupaten Kampar, TNI, Polri, dan unsur relawan masih melakukan penyisiran di sepanjang aliran Sungai Kampar. Pencarian difokuskan pada sejumlah titik yang dinilai berpotensi menjadi lokasi hanyutnya korban berdasarkan analisis kondisi arus dan hasil evaluasi tim di lapangan.
    Foto: Sungai Memakan korban
Seorang anggota Tim SAR yang ditemui ARDNEWS Ervan Djunaidi Kasubbid kedaruratan menjelaskan bahwa operasi pencarian dilaksanakan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) pencarian dan pertolongan.
“Sesuai SOP dan instruksi pimpinan, operasi SAR dilaksanakan selama tujuh hari. Namun selama proses berlangsung kami akan memaksimalkan seluruh upaya yang ada. Komitmen kami adalah memberikan yang terbaik sampai korban dapat ditemukan,” ujarnya.
Di balik operasi pencarian yang terus berlangsung, keluarga korban masih bertahan di lokasi dengan harapan yang belum padam. Sejak hari pertama menerima kabar, orang tua kandung korban memilih tetap berada di sekitar posko untuk menunggu setiap perkembangan yang disampaikan petugas.
Kepada ARDNEWS, orang tua korban yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku masih meyakini putranya dapat ditemukan dalam keadaan selamat.
“Kami masih berharap dia masih hidup. Selama belum ada kepastian, kami akan terus berharap,” tuturnya.
Ia menceritakan, kabar mengenai peristiwa tersebut diterimanya dari keluarga di Kecamatan Kabun pada Selasa (4/8/2026) pagi. Namun ada satu hal yang hingga kini terus menjadi pegangan keluarga.
Menurutnya, meskipun peristiwa diduga terjadi sekitar pukul 08.00 WIB, telepon genggam milik putranya masih dalam kondisi aktif sekitar pukul 10.00 WIB. Saat dihubungi, panggilan masuk, tetapi tidak ada jawaban
“Itulah yang membuat kami terus berharap. Ponselnya masih aktif waktu itu, hanya saja tidak diangkat,” katanya.
Saat ditanya apakah korban memiliki persoalan pribadi sebelum kejadian, sang ayah mengaku tidak mengetahui adanya masalah yang dapat mengarah pada dugaan tersebut.
“Setahu kami tidak ada masalah. Dia anak yang baik dan melayani sebagai pendeta. Bahkan dia baru sekitar satu minggu berada di sini. Kami benar-benar tidak menyangka dengan kejadian ini,” ungkapnya.
Bagi keluarga, setiap hari yang berlalu menjadi penantian yang penuh harap. Mereka berharap proses pencarian yang dilakukan tim gabungan segera membuahkan hasil.
“Kami hanya memohon doa dari semua masyarakat. Kami berharap masih ada keajaiban dan anak kami bisa segera ditemukan,” ucapnya.
Hingga Kamis sore, proses pencarian masih terus berlangsung, sementara kepolisian tetap melakukan penyelidikan untuk mengungkap secara utuh kronologi peristiwa tersebut. Aparat mengimbau masyarakat agar tidak membangun spekulasi ataupun menyimpulkan penyebab kejadian sebelum hasil penyelidikan disampaikan secara resmi (GIMAN)









