Rokan Hulu.Ard-News.com— Direktur RSUD Rokan Hulu, dr. Zuldi Afki, Sp.P, meluruskan pemberitaan soal pasien gigitan ular berbisa yang dirujuk pada Minggu (31/05/2026) malam. Ia menegaskan antivenom sebenarnya tersedia di RSUD saat kejadian, namun pemberian serum terkendala akses layanan farmasi malam hari.
“Pasien sudah dapat penanganan awal sesuai prosedur di IGD. Untuk percepat pemberian serum, kami koordinasi dan rujuk ke RS Insani yang bisa segera beri terapi lanjutan,” ujar dr. Zuldi, Rabu (03/06/2026).
Klarifikasi ini sekaligus membantah isu antivenom kosong. Meski begitu, kasus ini menyorot sistem pelayanan darurat, khususnya akses obat penyelamat nyawa di luar jam operasional farmasi. Pada gigitan ular berbisa, kecepatan terapi sangat krusial untuk cegah komplikasi fatal.
Humas RSUD Rohul, Sogiren, SKM., MM, menyebut rujukan dilakukan atas pertimbangan medis dan sesuai SOP kegawatdaruratan. RSUD telah melakukan evaluasi internal dan memperkuat koordinasi dengan Instalasi Farmasi. “Kami komitmen jaga ketersediaan obat esensial, termasuk antivenom, dan pastikan akses cepat saat darurat,” tegas dr. Zuldi.
Keluarga pasien memahami keputusan medis tim dokter dan mengapresiasi tindakan cepat IGD sebelum rujukan. Pasien kini dilaporkan pulih dan sudah beraktivitas normal usai ditangani di RS Insani.
Kasus ini jadi pengingat: stok obat vital saja tidak cukup. Akses cepat saat darurat sama pentingnya. Evaluasi RSUD Rohul diharapkan tingkatkan kualitas layanan dan kepercayaan publik. (Amir)





