Nyawa Taruhan, Antivenom di RSUD Rohul Diduga Kosong Saat Pasien Kritis

ARD-NEWS.COM.Rokan Hulu— Ketersediaan serum anti bisa ular di RSUD Rokan Hulu disorot setelah dua pasien diduga tak mendapat antivenom saat penanganan darurat. Kasus terbaru menimpa BS (31), warga Desa Rambah Tengah Barat, yang digigit ular berbisa Minggu (31/5/2026) malam. Keluarga menyebut serum tidak tersedia di IGD sehingga korban harus dirujuk ke RS lain usai penanganan awal. Kasus serupa terjadi Februari 2026 pada Restan (30), warga Desa Tingkok, yang keluarganya mengaku membayar Rp2,5 juta untuk serum di luar RSUD Rohul.

Gigitan ular berbisa termasuk kegawatdaruratan yang butuh penanganan cepat. Keterlambatan berisiko sebabkan gangguan pembekuan darah, kerusakan organ, hingga kematian. Rokan Hulu termasuk daerah rawan karena luasnya area perkebunan dan pertanian. Sebagai RS rujukan, RSUD Rohul dituntut siap 24 jam, termasuk memastikan stok obat esensial seperti antivenom selalu tersedia.

Terulangnya kasus dalam empat bulan memicu desakan publik agar ada evaluasi sistem pengadaan dan distribusi obat darurat. Pengamat menilai Dinkes Rohul perlu transparan soal stok dan langkah antisipasi. Hingga kini, RSUD Rohul maupun Dinkes Rohul belum memberi keterangan resmi. ARD News masih berupaya konfirmasi. (Amir)