Di Tengah Arus Modernisasi, Paguyuban Kuda Kepang Seni Budoyo Banyumasan di Kabun Tetap Menjaga Warisan Leluhur

ARD-NEWS.COM – Rokan Hulu – Denting suara gamelan dan tabuhan kendang masih terdengar merdu dan hidup di salah satu sudut Desa Batu Langkah Besar, Kecamatan Kabun, Kabupaten Rokan Hulu. Di tengah derasnya arus perkembangan zaman serta semakin berkurangnya perhatian masyarakat terhadap kesenian tradisional, Paguyuban Kuda Kepang Seni Budoyo Banyumasan tetap bertahan dengan kokoh. Mereka senantiasa menjaga warisan budaya Jawa dengan cara swadaya, serta dilandasi semangat kebersamaan yang kental di antara seluruh anggotanya.

Pada sesi latihan rutin yang diadakan setiap malam, para anggota paguyuban tampak aktif memainkan beragam alat musik tradisional, seperti gong, kenong, saron, dan kendang, yang menjadi iringan utama dalam pertunjukan kesenian kuda kepang khas daerah Banyumasan. Cahaya dari lampu yang dipasang secara sederhana di teras rumah warga berpadu serasi dengan alunan irama gamelan, menciptakan suasana yang hangat, akrab, serta sarat akan nilai-nilai budaya dan rasa kekeluargaan yang erat.

Paguyuban ini diketahui telah memiliki struktur kepengurusan yang resmi, yang keberadaannya diakui berdasarkan surat keterangan dari pemerintah desa. Organisasi kesenian tersebut dipimpin oleh Paimin selaku Ketua, didampingi oleh Triwanto sebagai Sekretaris, serta Sudir yang menjabat sebagai Bendahara. Di bawah kepengurusan tersebut, terdapat sejumlah anggota dan penari yang senantiasa aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan, baik sesi latihan maupun pertunjukan budaya yang diselenggarakan untuk masyarakat luas.

Ketua Paguyuban Kuda Kepang Seni Budoyo Banyumasan, Paimin, menyampaikan bahwa keberadaan komunitas kesenian tradisional ini memiliki tujuan utama, yakni menjaga agar budaya Jawa tetap hidup dan dikenal di tengah kehidupan masyarakat perantauan.

“Kami berkeinginan agar budaya Jawa, khususnya kesenian khas Banyumasan, dapat tetap lestari meskipun kami berada di tanah perantauan. Kami tidak ingin sampai suatu hari nanti generasi muda tidak lagi mengenal dan memahami warisan budaya yang diwariskan oleh para leluhur kita,” ungkapnya.

Menurut penuturannya, selama ini seluruh kegiatan paguyuban berjalan secara mandiri dan sangat mengandalkan kekompakan serta kerja sama yang baik antar seluruh anggotanya. Meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan, baik dari segi fasilitas maupun perlengkapan kesenian yang dimiliki, semangat untuk terus melestarikan budaya tetap menjadi prioritas utama yang senantiasa dipegang teguh oleh setiap anggota dalam komunitas tersebut.

Keberadaan Paguyuban Kuda Kepang Seni Budoyo Banyumasan dinilai memiliki peran yang sangat berharga. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat sekitar, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang sangat penting dalam mempertahankan identitas tradisi di tengah arus kehidupan modern yang terus berkembang. Selain itu, aktivitas kesenian tradisional seperti ini juga menjadi wadah pembinaan yang efektif bagi generasi muda, agar mereka senantiasa mengenal, memahami, dan mencintai kekayaan budaya yang dimiliki oleh Nusantara.

Namun demikian, hingga saat ini perhatian yang diberikan terhadap komunitas kesenian tradisional di tingkat desa dinilai masih belum maksimal. Banyak kelompok kesenian rakyat yang tetap bertahan dan menjalankan kegiatannya dengan cara swadaya, tanpa mendapatkan dukungan yang memadai, baik berupa pembinaan secara berkelanjutan maupun penyediaan fasilitas dan perlengkapan yang layak dari pihak pemerintah daerah.

Padahal, kesenian dan kebudayaan tradisional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas suatu daerah, sekaligus menjadi aset berharga bagi bangsa Indonesia yang wajib dijaga dan dilestarikan keberlangsungannya. Sehubungan dengan hal tersebut, masyarakat menyampaikan harapan agar pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memberikan perhatian yang lebih serius dan menyeluruh terhadap para pelaku kesenian tradisional. Bentuk dukungan yang diharapkan antara lain berupa penyelenggaraan pembinaan secara rutin, bantuan penyediaan perlengkapan kesenian, hingga penyelenggaraan festival budaya tingkat daerah yang dapat menjadi wadah pamer dan pengembangan potensi kesenian yang ada.

Di tengah keheningan malam dan suasana yang sederhana di Desa Batu Langkah Besar, alunan irama gamelan itu terus bergema. Suara itu menjadi penanda yang jelas, bahwa warisan budaya belum akan benar-benar hilang dan terlupakan, selama masih ada sekelompok masyarakat yang memiliki ketulusan hati serta kesediaan untuk terus menjaga, merawat, dan melestarikannya dengan penuh rasa cinta dan tanggung jawab.(Amir)