Moral vs Realita Kekuasan : Catatan Kritis Atas Nasihat Mentri Agama Untuk Demokrasi

Jakarta.Ard -nrwd.com- Pernyataan Menag K.H. Nasaruddin Umar yang meminta demonstran meneladani Nabi Musa: santun, lembut, beradab, terdengar indah di ruang publik.

Masalahnya, nasihat moral sering berhenti pada masyarakat kecil. Rakyat diminta menahan suara. Mahasiswa diminta tertib. Aktivis diminta beradab. Tapi seruan setara kerasnya agar kekuasaan tidak semena-mena, tidak menindas, tidak zolim dan tidak tuli terhadap kritik, jarang terdengar.

Padahal kisah Musa tidak berhenti pada kelembutan. Ia hadir ditengah kehidupan masyarakatnya yang  sudah tidak kondusif kecuali bagi Fir’aun dan kroninya di lingkaran kekuasan .Musa datang bukan untuk pencitraan melainkan mengguncang status quo. Ia gangguan bagi kuasa yang merasa tak perlu dikoreksi.

Ironi muncul saat “kelembutan Musa” diangkat, tapi alasan ia berdiri di hadapan Fir’aun dihindari. Seolah pesan utamanya cuma “bicara lembut,tetapi tidak jadi penguasa yang membuat kelembutan merupakan satu-satunya jalan agar didengar publik”

Sejarah mencatat: Fir’aun tidak runtuh karena Musa terlalu keras. Ia runtuh karena terlalu lama merasa tak perlu mendengar kritikan.

Jadi pertanyaannya: kita diminta menenangkan kritik, atau memastikan kekuasaan tidak kebal kritik? Sebab mungkin masalahnya bukan suara yang terlalu keras ke bawah, melainkan telinga yang terlalu tuli tidak mendengar suara kebenaran para elit di atas.(Rahman Daeng).