ARDNEWS.COM
PORTAL BERITA TERKINI • LIVE
● LIVESUBSCRIBE
BERANDANASIONALBISNISTEKNOLOGIHUKUM
KURS LIVEUSD/IDR 17.889EUR/IDR 20.045
BREAKINGPUSPOLRINDO Desak Kasus Denny Indrayana • BI Tahan Bunga 6,25% • Hanya di ARD-NEWS.COM

Harga Karet Terjun ke Rp22.488 per Kg, Petani Rokan Hulu Terhimpit: Pemerintah Jangan Tutup Mata!

IMG-20261107-WA0066

ROKAN HULU, RIAU – Ard-news.com — Nasib petani karet kembali menjadi sorotan. Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan biaya produksi perkebunan, harga jual karet justru mengalami penurunan. Kondisi ini dirasakan petani di lokasi tender Cempedak Mati, Desa Pematang Tebih, Kecamatan Ujungbatu, Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

Pada Sabtu (7/11/2026), harga karet tercatat berada di angka Rp22.488 per kilogram, turun dari harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp24.900 per kilogram. Artinya, petani kehilangan potensi pendapatan sebesar Rp2.412 dari setiap kilogram karet yang dijual.

Penurunan tersebut bukan sekadar perubahan angka dalam transaksi perdagangan. Bagi petani, kondisi ini menyangkut pendapatan keluarga, biaya pendidikan anak, kebutuhan pangan, hingga keberlangsungan usaha perkebunan rakyat.

Ironisnya, ketika harga komoditas andalan masyarakat mengalami tekanan, kebutuhan pokok, bahan bakar minyak (BBM), dan pupuk justru tetap menjadi beban pengeluaran yang harus dipenuhi petani.

K. Pane, salah seorang petani karet, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, semakin rendah harga jual karet, semakin berat pula perjuangan petani untuk mempertahankan perekonomian keluarga.

“Bagaimana petani bisa memenuhi kebutuhan keluarga jika harga karet terus turun, sementara harga sembako semakin mahal dan tidak sebanding lagi dengan penghasilan kami,” ungkap K. Pane.

Ia berharap pemerintah tidak membiarkan petani menghadapi ketidakpastian harga tanpa perlindungan dan pengawasan yang memadai.

K. Pane juga menyoroti pentingnya transparansi dalam rantai perdagangan karet. Ia meminta pemerintah mengawasi mekanisme pembentukan harga agar tidak terjadi praktik perdagangan yang merugikan petani.

“Jangan sampai harga karet dimainkan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan besar atau oligarki. Pemerintah harus hadir untuk memantau dan melindungi hak petani,” tegasnya.

PENGUATAN TATA NIAGA DAN PERLINDUNGAN PETANI

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa sektor perkebunan rakyat membutuhkan perhatian serius. Petani tidak cukup hanya didorong untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil perkebunan, tetapi juga membutuhkan kepastian pasar, transparansi harga, serta tata niaga yang sehat.

Pemerintah daerah bersama instansi perkebunan terkait diharapkan melakukan evaluasi terhadap kondisi perdagangan karet di tingkat petani, memperkuat pengawasan rantai distribusi, serta mendorong kebijakan yang mampu meningkatkan posisi tawar pekebun.

ARD-News memandang persoalan harga karet tidak boleh hanya dilihat sebagai dinamika pasar biasa. Ketika pendapatan petani terus tertekan sementara biaya hidup meningkat, dampaknya dapat meluas terhadap daya beli masyarakat dan perekonomian daerah.

Petani tidak meminta kemewahan. Mereka hanya mengharapkan hasil dari keringat dan kerja keras di kebun mampu memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya.

Kini, perhatian dan langkah konkret pemerintah menjadi hal yang dinantikan para petani karet di Rokan Hulu.

Redaksi ARD-News membuka ruang konfirmasi, klarifikasi, dan hak jawab kepada pemerintah maupun pihak terkait guna memberikan penjelasan mengenai perkembangan harga karet serta langkah perlindungan terhadap petani.(Amir)