Jakarta.Ard- news.com – Catatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk pasar modal Indonesia harus jadi alarm. PR terbesar kita masih di transparansi, tata kelola, dan kepastian hukum.
Otoritas pasar modal dan BEI diminta segera menindaklanjuti semua catatan MSCI agar kepercayaan investor global tidak lari.
*MSCI Sorot 3 Isu Krusial*
Lembaga indeks global itu menyoroti transparansi kepemilikan saham, validitas _free float_, dan dugaan _coordinated trading_. Ketiganya dinilai memengaruhi persepsi _investability_ pasar Indonesia.
Pengamat Hukum dan Pembangunan Hardjuno Wiwoho bilang, status Indonesia sebagai _emerging market_ memang dipertahankan. Tapi MSCI terus mengevaluasi tata kelola kita.
“Dunia internasional mau lihat apakah pasar modal RI benar-benar bergerak ke transparansi lebih baik, atau stuck di persoalan yang sama tiap tahun,” ujar Hardjuno.
Pengamat pasar modal David Sutyanto sepakat. Menurut Ketua Umum AEI ini, catatan MSCI harus jadi momentum percepatan reformasi.
“Tantangannya sekarang implementasi. Harus konsisten, terukur, dan kelihatan dampaknya oleh investor global,” kata David.
Kepercayaan = Modal Utama Pasar Modal*
Hardjuno menegaskan, isu yang disorot MSCI bukan teknis. Ini soal kepercayaan investor terhadap integritas pasar.
Indonesia punya catatan panjang kasus yang menggerus kepercayaan: Jiwasraya, Asabri-Benny Tjokro & Heru Hidayat, Kresna Life-Michael Steven, WanaArtha Life. Kerugian finansialnya besar, tapi yang paling mahal adalah hilangnya _trust_.
“Pasar modal itu pasar kepercayaan. Investor ragu siapa pemilik saham, ragu harga wajar, ragu hukum konsisten, mereka pindah ke negara lain yang lebih aman,” tegas Hardjuno.
Ia mencontohkan Singapura, Korea Selatan, dan India. Negara itu maju bukan karena aturannya paling banyak, tapi karena konsisten menegakkan hukum.
“Investor tidak cari negara dengan regulasi paling banyak. Investor cari negara paling konsisten menegakkan aturan. Di situ pentingnya _rule of law_,” katanya.
Fase Pembuktian Dimulai
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menyebut _Market Classification Review 2026_ MSCI sebagai awal fase pembuktian.
“Kalau dulu tantangannya bikin reformasi, sekara tantangannya buktiin reformasi itu jalan. Investor mau lihat perbaikan nyata: transparansi, harga sehat, pengawasan ketat, integritas pasar,” ujar Fakhrul.
Kalau transparansi dan kepastian hukum diperkuat, Indonesia punya peluang jadi tujuan investasi paling menarik di Asia Tenggara. Tapi kalau tata kelola abai, modal global yang dibutuhkan pembangunan bisa kabur.(Red)





