Ard-news.com- Rokan Hulu – Bau pakan dan suara riuh ratusan itik setiap pagi menjadi bagian dari keseharian Muhammad Zulfahmi, mahasiswa Semester 6 Universitas Rokania. Di saat mahasiswa lain bersiap ke kampus dengan tugas kuliah, ia lebih dulu memastikan ratusan ternaknya dalam kondisi sehat.
Di sebuah kandang sederhana di Desa Lubuk Bendahara, Kecamatan Empat Koto, Kabupaten Rokan Hulu, Zulfahmi membangun mimpinya—bukan dari ruang kelas, tetapi dari usaha ternak itik darat jumbo.
Setahun lalu, ia hanya memulai dengan 10 ekor induk betina dan 2 pejantan. Modalnya bukan besar, pengalamannya pun terbatas. Namun tekad untuk mandiri membuatnya berani melangkah.
Hari ini, jumlah ternaknya telah berkembang menjadi sekitar 300 ekor itik jumbo. Tak hanya itu, ia juga mengelola sekitar 100 ekor ayam kampung sebagai usaha tambahan.
Dalam kurun waktu satu tahun, ia mencatat telah menjual sekitar 1.000 ekor itik, baik dalam bentuk bibit maupun siap konsumsi. Dari hasil itulah ia membayar uang kuliah, biaya semester, hingga kebutuhan hariannya.
“Saya ingin mandiri. Tidak ingin terus bergantung pada orang tua. Alhamdulillah dari ternak ini saya bisa membiayai kuliah sendiri,” ujar Zulfahmi.
Baginya, beternak bukan sekadar usaha sampingan mahasiswa. Ia menjalankan manajemen pakan secara teratur, menjaga kebersihan kandang, serta memastikan kualitas bibit tetap terjaga. Ia juga membangun jaringan pemasaran secara bertahap, mulai dari lingkungan desa hingga pembeli di luar wilayah.
Di tengah fluktuasi harga pakan dan risiko penyakit ternak, ia mengaku harus disiplin dan konsisten. Kegagalan kecil di awal usaha menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki sistem pemeliharaan.
Keberhasilan itu mendapat apresiasi warga sekitar. Hamid, tetangga yang tinggal tidak jauh dari lokasi kandang, menilai langkah Zulfahmi menjadi contoh nyata bahwa anak muda desa mampu menciptakan peluang sendiri.
“Kami bangga. Jarang ada mahasiswa yang mau serius beternak seperti ini. Semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan anak-anak muda kreatif yang mau berusaha di desa,” kata Hamid.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Warga menilai, dukungan berupa pelatihan, akses permodalan, bantuan bibit unggul, hingga pendampingan pemasaran sangat dibutuhkan agar semakin banyak generasi muda tertarik terjun ke sektor produktif.
Kisah Zulfahmi menjadi refleksi bahwa potensi desa tidak kalah dari kota. Dari kandang sederhana dengan 12 ekor awal, kini berkembang menjadi ratusan populasi dan ribuan penjualan dalam setahun.
Di tengah kekhawatiran menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian dan peternakan, langkah mahasiswa asal Empat Koto ini menjadi pesan kuat: kemandirian bisa dimulai dari desa, dari kandang kecil, dan dari keberanian untuk memulai.
(Amir)





