JAKARTA ,Ard-news.com- (01/03) – Kita akan menyaksikan bulan yang seperti berdarah-darah saat menengok langit tepatnya pada tanggal 3 Maret 2026. Fenomena ini disebut blood moon, atau gerhana bulan darah. Secara ilmu astronomi dapat diketahui mengapa ini terjadi, bahwa warna merah tersebut adalah karena atmosfer bumi membiaskan cahaya matahari dan meneruskan spektrum cahaya merah ke permukaan bulan saat terjadi gerhana bulan total.
Menariknya, sejak masa peradaban tertua di dunia; Mesopotamia, Indus, Mesir, Inca sampai sekarang, blood moon dipercaya sebagian masyarakat sebagai isyarat akan terjadinya suatu peristiwa dahsyat atau “konfirmasi langit” atas suatu peristiwa penting yang baru saja terjadi. Bisa merupakan peristiwa lahir atau meninggalnya seorang tokoh besar, terjadinya suatu bencana luar biasa atau kejadian bersejarah lainnya. Fenomena blood moon juga tertera dalam kitab berbagai keyakinan dan agama di dunia. Masyarakat era Mesopotamia percaya bahwa blood moon adalah penanda bahaya besar. Beberapa tradisi lain menyakini bahwa saat terjadi blood moon, batas antara dunia phisik dan spiritual menipis sehingga merupakan waktu yang sangat bertuah untuk berdoa atau sembahyang gerhana. Secara khusus dalam tradisi Hindu, misalnya, diceritakan tentang raksasa Rahu yang dengan sifat raksasanya berhasil mencuri tirta amrita (air keabadian) sehingga kemudian kepalanya dipenggal oleh dewata. Badannya binasa namun kepalanya tetap hidup abadi karena telah sempat meminum setetes air keabadian. Kepalanya yang hidup dan bersimbah darah kemudian mendekati bulan pada saat tertentu dan peristiwa ini dikenal sebagai blood moon. Sehingga pada saat terjadi blood moon, umat Hindu disarankan untuk melakukan persembahyangan khusus untuk dijauhi dari pengaruh buruk Rahu dan memperoleh perlindungan keselamatan.
Teman-teman Muslim biasanya melakukan ibadah khusus saat terjadi gerhana. Terkait gerhana pada tanggal 3 Maret 2026, misalnya, Kementerian Agama dan lembaga keagamaan lainnya sudah mengeluarkan himbauan untuk melaksanakan Salat Gerhana (Salat Khusuf).
Ternyata fenomena blood moon juga menjadi perhatian masyarakat Israel. Konon tradisi Yahudi percaya bahwa gerhana bulan merah adalah pertanda penting dan tidak boleh diabaikan. Sebelumnya, beberapa peristiwa penting bangsa Yahudi terjadi di sekitaran blood moon, seperti peristiwa pengusiran orang Yahudi dari Spanyol dan deklarasi negara Israel (1948). Jadi mereka mempercayai bahwa blood moon memiliki isyarat khusus yang penting, baik positif ataupun negatif.
Dalam konteks keilmuan, para ahli modern percaya bahwa terdapat keterhubungan antara energi, frekuensi dan getaran. Bulan purnama atau bulan mati berpengaruh terhadap pasang surutnya air laut. Kondisi kosmik ini berpengaruh juga terhadap manusia. Lebih lanjut perihal tersebut, bisa dipelajari pendapat pemikir-pemikir besar dunia seperti Nicola Tesla, Albert Einstein, Max Plack, Joe Dispenza sampai yang kekinian seperti Masaru Emoto yang dengan teori molekul airnya menyatakan bahwa energi, frekuensi dan getaran suara dapat mengubah struktur molekul air.
Terkait perang yang sedang terjadi di Timur Tengah, ahli Hubungan Internasional (HI) secara teoritis dapat mengatakan bahwa konflik Timur Tengah adalah contoh konkrit pemikiran realis HI dalam bentuknya yang paling riil, bahwa karakter bangsa-bangsa adalah _struggle for power_. Negara akan melakukan apa saja untuk national interest/kepentingan nasionalnya. Berlaku doktrin “Si vis pacem, para bellum”, jika ingin damai maka bersiaplah untuk perang. “Damai” dalam perspektif realis HI selalu diartikan secara negatif, sebagai “ke(sedang)tiadaan perang”. Pemikir realis HI tidak percaya akan “perdamaian yang abadi” karena perang adalah konsekuensi logis untuk pemenuhan hasrat bangsa-bangsa akan _power_. Agar tidak terjadi perang, maka penting adanya penyeimbangan kekuatan (_balance of power_). Dalam konteks inilah kita dapat memahami jika misalnya Iran dan negara lain yang diduga mengembangkan program nuklir tetap mempertahankan pengayaan uranium mereka. Selain untuk kepentingan energi, kesehatan dan lainnya kebutuhan negara masing-masing, kepemilikan ini juga untuk kepentingan pertahanan, untuk _balance of power_.
Dengan demikian, terhadap konflik Timur Tengah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang termasuk aspek hubungan internasional dan astronomi. Kenyataanya, blood moon dari zaman dahulu sampai sekarang masih kerap dikaitkan dengan peristiwa sosial politik yang terjadi. Konon jatuhnya Konstantinopel (1453) disebabkan ambruknya moral psikologis pasukan Romawi Timur (Bizantium) saat melihat bulan berubah menjadi merah darah saat gerhana blood moon. Blood moon yang terjadi pada pertengahan tahun 1453 tersebut dipercaya sebagai penanda berakhirnya kekuasaan lama (Bizantium) dan munculnya kekuasaan baru (Ottoman). Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Istanbul sejak era Republik Turki hingga kini. Pun, masyarakat dunia kekinian masih tetap percaya akan hubungan antara kejadian di bumi dan pertanda dari langit. Terkait perang yang sekarang sedang terjadi di Timur Tengah apakah semesta juga sedang memberikan pertandanya melalui fenomena blood moon? Setiap orang dapat memiliki sudut pandangnya sendiri.
Penulis: Pande K.Trimayuni,
Ketua FOKAL UI





