BCA Bantah Haji Isam, CBA Malah Bertanya: Bank Terbuka Kok Pilih-pilih Pemegang Saham

JAKARTA. ARD-NEWS. COM- (05/10) – Isu mengenai kabar rencana masuknya pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam ke jajaran pemegang saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali menjadi sorotan. Pihak BCA sebelumnya telah membantah isu tersebut melalui EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn.
Bantahan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru dari Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi. Ia mempertanyakan posisi BCA sebagai perusahaan terbuka dan bagaimana seharusnya manajemen menyikapi transaksi saham di pasar modal.
“Bantahan dari pihak Bank BCA ini, banyak publik mempertanyakan Bank BCA itu perusahaan apa, apakah perusahaan terbuka, perusahaan tertutup, atau perusahaan oligarki?” kata Uchok Sky kepada wartawan, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, apabila BCA merupakan perusahaan terbuka, maka transaksi jual beli saham merupakan mekanisme yang lazim terjadi di pasar modal. Karena itu, menurut Uchok, siapa pun yang memiliki kemampuan membeli saham sesuai ketentuan pasar modal pada dasarnya tidak dapat begitu saja dilarang oleh manajemen.
“Kalau ia perusahaan terbuka, siapa saja yang mau beli saham Bank BCA, tidak boleh dibantah, harus diperbolehkan, atau tidak boleh ditolak oleh manajemen Bank BCA,” ujarnya.
Namun demikian, Uchok mengakui bahwa persoalan akan berbeda apabila pembelian saham dalam jumlah besar dilakukan hingga mengubah struktur pengendalian perusahaan. Masuknya investor besar sebagai calon pemegang saham pengendali memiliki konsekuensi terhadap tata kelola dan komposisi pengurus perusahaan.
Dalam pandangan Uchok, kekhawatiran manajemen BCA terhadap kemungkinan masuknya Haji Isam dapat dikaitkan dengan potensi perubahan struktur kekuasaan di internal perusahaan. Ia menduga pemegang saham pengendali baru nantinya berpotensi melakukan perubahan terhadap jajaran manajemen maupun komisaris.
“Ketika Haji Isam masuk, otomatis akan menjadi pemegang saham pengendali, dan akan banyak menyingkirkan orang-orang di lingkaran elit manajemen bank tersebut,” tutur Uchok.
Uchok bahkan membuat prediksi mengenai kemungkinan perubahan komposisi jajaran komisaris BCA apabila terjadi perubahan pengendalian. Ia menyebut nama Jahja Setiaatmadja dan Tonny Kusnadi sebagai pihak yang menurutnya berpotensi terdampak.
“Prediksi CBA, ketika Haji Isam masuk ke Bank BCA, orang-orang seperti Jahja Setiaatmadja sebagai Presiden Komisaris dan memiliki saham sebanyak 34.933.644 lembar, maupun Tonny Kusnadi juga komisaris yang memiliki saham sebanyak 7.502.058 lembar, kemungkinan akan tergerus, dan bisa juga akan tersingkir dari jajaran komisaris,” kata Uchok.
Uchok menilai transaksi saham perusahaan terbuka merupakan sesuatu yang lumrah. Persoalannya, menurut dia, adalah ketika pembelian saham tersebut diarahkan untuk memperoleh kendali atas perusahaan.
“Proses jual beli saham perusahaan di pasar modal soal yang lumrah terjadi. Namun, untuk menjadi pemegang saham pengendali membutuhkan proses,” ujarnya.
Karena itu, Uchok mempertanyakan alasan munculnya bantahan dan sikap manajemen BCA terhadap isu masuknya Haji Isam.
“Kenapa manajemen Bank BCA merasa ketakutan kepada Haji Isam?” tanya Uchok.
Ia menilai regulator perlu memastikan bahwa mekanisme kepemilikan dan transaksi saham BCA berjalan sesuai aturan yang berlaku serta tidak memberikan perlakuan berbeda kepada calon investor tertentu.
Menurut Uchok, apabila benar terdapat pembatasan atau perlakuan khusus terhadap pihak tertentu dalam proses kepemilikan saham, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mencermati persoalan tersebut.
“Kalau Bank BCA menolak saham untuk dibeli, atau pihak BCA hanya memilih orang-orang siapa saja yang mau beli saham BCA, ini lebih baik pihak OJK untuk mempertimbangkan agar Bank BCA dievaluasi lagi,” katanya.
Bahkan, Uchok melontarkan pernyataan paling keras dengan meminta regulator mempertimbangkan langkah ekstrem apabila nantinya ditemukan persoalan serius dalam tata kelola BCA.
“Atau bila perlu ditutup Bank BCA tersebut,” pungkasnya.