Nagekeo,ard-news.com — Dua malam di tenda. Rasa takut belum hilang. Itulah yang kini dirasakan Hasna Jenapo dan warga Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.
Gempa 7,7 magnitudo yang mengguncang Mbay pada Sabtu, 15 Agustus 2026, meruntuhkan rasa aman. Rumah mereka masih berdiri, tapi tidak ada yang berani masuk.
Keluhan itu tumpah dalam sebuah video yang viral. Dengan suara bergetar, Hasna menyoroti lambatnya bantuan dari pemerintah daerah.
“Bantuan dari Polri dan TNI sudah dua malam. Dari Bupati, dari Pemda, belum ada,” ujarnya, Senin 17/8/2026.
Yang paling melukai warga, kata dia, adalah himbauan untuk kembali ke rumah.
“Bagi kami itu mustahil. Kami masih takut. Gempa bisa datang lagi kapan saja,” tegasnya.
Luapan kecewa itu juga menyeret soal politik. “Katanya uang banyak, masyarakat akhirnya memilih. Sekarang masyarakat belum apa-apa, disuruh pulang. Tidak ada perhatian.”
Kondisi serupa terjadi di Kelurahan Towak dan Desa Aeramo. Stok makanan warga menipis. RSUD Aeramo terpaksa melayani pasien di tenda darurat karena gedungnya rusak.
Di sisi lain, Tim SAR Gabungan mencatat 79 korban telah dievakuasi. Personel Brigif TP 42/KEF juga turun langsung membantu mendirikan tenda-tenda pengungsian.
Gempa adalah bencana. Namun di tengah trauma, warga butuh lebih dari sekadar arahan. Mereka butuh kehadiran dan kepastian bahwa negara hadir.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Bupati Nagekeo menanggapi keluhan yang viral tersebut.
Ketua Umum PDKN, Dr. Rahman Sabon Nama, turut menyoroti. Saat dikonfirmasi via telepon, ia mengatakan:
“Sehari setelah gempa, pemerintah pusat sudah bertindak cepat mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk gempa Flores. Seharusnya pemerintah daerah di tujuh kabupaten/kota penerima bantuan segera tanggap mendistribusikan ke masyarakat terdampak dan mendirikan tenda di titik-titik pengungsian,” tegasnya.Selasa, (18/8 ) **
Foto : Di ambil Dari Media Social/ FB






