BREAKING NEWS 🔴 Cek Berita Terbaru ARD-NEWS.COM Hari Ini - Update Terus - Berita Terkini Bekasi dan Nasional Hari Ini - Live Update - ARD NEWS Selalu Terdepan -

Saat Anak-Anak Dipaksa Belajar dari Rumah karena Kabut Asap, Pembakaran di PT FAA Terpantau Tetap Berlangsung

IMG_20261008_105135

ROKAN HULU — ard-news.com –– Ketika pemerintah mengambil langkah luar biasa dengan mengalihkan pembelajaran sekolah ke rumah akibat kondisi kabut asap, publik tentu berharap seluruh pihak ikut mengambil langkah untuk mengurangi sumber-sumber emisi dan menjaga kualitas lingkungan.

Namun, pada Rabu, 7 Oktober 2026, tim ARD News justru menemukan fakta berbeda di lapangan.

Di kawasan PKS PT Fortius Agro Asia (PT FAA), Desa Aliantan, Kecamatan Kabun, Kabupaten Rokan Hulu, aktivitas tungku pembakaran atau insinerator terpantau masih berlangsung dan mengeluarkan kepulan asap yang terlihat cukup tebal ke udara.

Temuan tersebut dilihat langsung oleh tim ARD News dan didokumentasikan melalui foto serta video.

Persoalannya bukan sekadar soal ada atau tidaknya asap.

Temuan ini berlangsung ketika pemerintah daerah sedang mengambil langkah perlindungan terhadap peserta didik akibat kondisi udara yang menjadi perhatian.

Pemkab Rokan Hulu menerapkan pembelajaran jarak jauh atau PJJ pada 7–8 Oktober 2026 sebagai bagian dari langkah menghadapi kondisi kabut asap.

Dengan kata lain, ketika anak-anak diminta mengurangi aktivitas di luar rumah dan kegiatan belajar tatap muka dihentikan sementara, pada waktu yang hampir bersamaan tim media justru menemukan aktivitas pembakaran industri masih berlangsung.

Di sinilah pertanyaan publik menjadi relevan:

Jika kondisi udara dianggap cukup serius hingga aktivitas belajar tatap muka harus dihentikan sementara, bagaimana pengawasan terhadap aktivitas pembakaran industri yang berpotensi menambah beban emisi pada saat yang sama?

ARD News tidak akan menjawab pertanyaan tersebut dengan asumsi.

Redaksi memilih turun ke lapangan, melihat sendiri, mendokumentasikan, kemudian mengonfirmasi kepada pihak-pihak yang berwenang.

Dan respons yang diperoleh cukup serius.

CAMAT: MANAJEMEN AKAN DIPANGGIL

Camat Kabun menyatakan kepada ARD News bahwa pihaknya akan memanggil manajemen PT FAA pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Tidak berhenti pada pemanggilan, pemerintah kecamatan juga menyatakan akan melayangkan surat teguran resmi kepada perusahaan.

“Besok management akan kami panggil dan akan kami layangkan surat teguran resmi,” ujar Camat Kabun.

Namun, Camat juga menegaskan bahwa perhatian pemerintah kecamatan bukan semata-mata terhadap aktivitas produksi perusahaan.
Menurutnya, perusahaan juga diharapkan memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan, terlebih saat situasi kabut asap akibat karhutla sedang terjadi.

“Pemerintah Kecamatan meminta kepedulian perusahaan terhadap kondisi asap dan lingkungan saat ini, bukan hanya untuk mengejar target produksi saja, tetapi juga turut menjaga lingkungan, terutama saat kondisi asap karhutla saat ini,” tegasnya.

Camat menambahkan, Pemerintah Kecamatan Kabun telah berkomunikasi langsung melalui sambungan telepon dengan pihak manajemen perusahaan.

“Pemerintah Kecamatan Kabun juga sudah berkomunikasi via telepon dengan manajemen perusahaan agar ke depan kondisi seperti ini dapat dihindari,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah kecamatan telah mengambil langkah komunikasi langsung dengan perusahaan sebelum persoalan ini berkembang lebih jauh.

DLH: AKAN DIHUBUNGI AGAR PEMBAKARAN DIHENTIKAN

Respons juga datang dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rokan Hulu.

Kabid DLH Rokan Hulu, Fahrizal, ketika dikonfirmasi ARD News menyatakan pihaknya akan menghubungi manajemen PT FAA.

“Akan kami telepon ke manajemen agar menghentikan pembakaran,” ujar Fahrizal.

Pernyataan DLH tersebut menjadi perhatian penting karena menunjukkan bahwa aktivitas pembakaran yang ditemukan ARD News telah mendapat respons dari instansi teknis pemerintah daerah.

Tetapi di titik ini, justru muncul pertanyaan yang lebih besar.
Mengapa aktivitas pembakaran masih terpantau ketika pemerintah sedang mengambil langkah perlindungan masyarakat akibat kondisi kabut asap?

Pertanyaan tersebut tentu bukan untuk dijawab oleh media.
Pertanyaan itu harus dijawab oleh pihak perusahaan.

BUKAN VONIS, TAPI FAKTA INI HARUS DIJELASKAN

ARD News menegaskan bahwa redaksi tidak menyatakan PT FAA telah melakukan pelanggaran lingkungan.

Temuan di lapangan justru menjadi dasar untuk meminta penjelasan dan memastikan aspek teknis serta kepatuhan lingkungan.

Sejumlah pertanyaan masih membutuhkan jawaban:

Apakah pembakaran tersebut memenuhi baku mutu emisi?

Apakah sistem pengendalian emisi berfungsi normal?

Apakah aktivitas tersebut tercantum dalam dokumen lingkungan dan persetujuan yang berlaku?

Apakah terdapat prosedur khusus ketika kondisi udara sedang buruk?

Semua pertanyaan tersebut membutuhkan data, pemeriksaan dan penjelasan dari pihak yang berwenang.

Karena itu, ARD News tetap membuka ruang kepada manajemen PT FAA untuk memberikan penjelasan, klarifikasi, bantahan maupun hak jawab.

Hingga berita ini disusun, manajemen PT FAA belum memberikan tanggapan resmi kepada ARD News.
Sikap tersebut tidak ditafsirkan sebagai pengakuan apa pun.
Redaksi hanya mencatat bahwa belum ada tanggapan resmi dari pihak perusahaan.

PUBLIK BERHAK MENDAPAT PENJELASAN

Persoalan kualitas udara bukan perkara kecil.

Ketika sekolah harus mengubah pola pembelajaran karena kondisi kabut asap, persoalan kualitas udara telah menyentuh langsung kehidupan masyarakat, khususnya peserta didik.

Karena itu, aktivitas pembakaran industri yang terpantau pada periode yang sama wajar menjadi perhatian publik dan membutuhkan penjelasan secara terbuka.

Bukan untuk menghakimi perusahaan.
Bukan pula untuk menciptakan keresahan.

Tetapi untuk memastikan satu hal:

Apakah seluruh aktivitas industri ketika kondisi udara sedang menjadi perhatian pemerintah benar-benar telah diawasi dan dijalankan sesuai ketentuan?

Camat Kabun telah menyatakan akan memanggil manajemen dan melayangkan teguran resmi.

DLH Rokan Hulu menyatakan akan menghubungi perusahaan agar pembakaran dihentikan.

Kini publik menunggu penjelasan dari manajemen PT FAA.
Dan yang tidak kalah penting, publik juga berhak mengetahui apa hasil tindak lanjut pemerintah setelah perusahaan dipanggil dan aktivitas pembakaran tersebut dihentikan atau diperiksa.

ARD NEWS: INI BARU AWAL

ARD News tidak berhenti pada asap yang terlihat kamera.

Redaksi akan terus menelusuri bagaimana aktivitas tersebut dijalankan, bagaimana pengawasannya, bagaimana sistem pengendalian emisinya, apa dasar dan ketentuan lingkungannya, serta bagaimana tindak lanjut pemerintah setelah temuan ini muncul.

Karena ketika masyarakat diminta menjaga kesehatan dan anak-anak harus belajar dari rumah akibat kondisi udara, maka seluruh pihak juga patut menunjukkan tanggung jawab yang sama terhadap lingkungan.

ARD News akan terus mengawal persoalan ini secara berimbang, berdasarkan fakta, data dan hak jawab para pihak.(red)

ARD NEWS. COM