JAKARTA .ard-newd.com-Umat Hindu Bali merayakan Hari Raya Tumpek Uye/Tumpek Kandang, “Valentine’s Day” untuk hewan piaraan dengan membuatkan banten selamatan.
Ini merupakan tradisi warisan leluhur yang masih tetap lestari sampai sekarang. Mereka sadar, manusia hidup di dunia mesti harmonis dengan makhluk-makhluk lain sesuai konsep Tri Hita Karana. Hewan juga bisa memberi dan menerima kasih sayang. Jalani ahimsa dengan tidak menyakiti sesama makhluk.
Praktik ini menantang pandangan antroposentris dimana seakan-akan hanya manusia yang mengerti tentang kasih sayang. Binatang dan tumbuhan dianggap sebagai pelengkap sehingga bisa diperlakukan sewenang-wenang. Padahal hewan punya atman seperti manusia.
Atman bersifat kekal, suci dan sempurna yang bersumber dari Paratman (Tuhan Yang Maha Esa). Jadi, hewan juga adalah percikan suci dari Tuhan Yang Maha Esa. Manusia, hewan dan tumbuhan digerakkan oleh energi spiritual yang sama, yang membedakan hanya bungkus kasarnya.
Hindu juga mengajarkan tentang Tri Pramana, tiga unsur makhluk hidup yang terdiri dari Bayu (tenaga), sabda (suara) dan idep (pikiran/kesadaran). Tumbuhan memiliki bayu. Hewan memiliki bayu dan sabda. Dan hanya manusia yang diberkati keistimewaan memiliki pikiran/kesadaran. Demikian menurut sastra Hindu.
Namun bagaimana dalam praktiknya? Seringkali kita menyaksikan kejadian yang terbolak-balik. Hewan yang menunjukkan kasih sayang, ketulusan dan pengorbanan untuk sesama hewan maupun untuk manusia. Sementara manusia justru bertindak seperti binatang tanpa menggunakan idep/pikiran mereka. Mereka membunuh, mengambil hak orang lain, menimbun sumber daya untuk diri sendiri, merusak alam lingkungan. Sementara hewan secara instinct hanya mencari makan secukupnya dan hidup harmonis dalam ekosistem mereka, yang ironisnya banyak dirusak manusia.
Jika demikian keadaanya, apa yang kemudian membedakan manusia dengan hewan?
Penulis: Pande K. Trimayuni
Sekjen, Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI)





